Tangan
kiriku, tangan kananku.
Di senja hari
aku duduk termenung seorang diri di bawah pohon kelapa dipesisir pantai yang tidak
hentinya menari tersapu oleh angin yang diiringi dengan suara deburan ombak. Angin
yang berhembus sepoi-sepoi seakan-akan mengerti kegalauan hatiku.
Hai sayang! sapa seseorang yang dua
bulan ini selalu menemani hari-hariku. Ya, dia suamiku.
Tempat ini
adalah tempat favorit kita berdua dimana tempat ini menjadi saksi saat masih
pacaran dulu.
Eh sayang, sudah lama? Tanyaku saat
sadar suamiku sudah disampingku.
Lumayan, ngelamunin apa si serius
amat? Tanya suamiku penasaran.
Entahlah sayang, aku merasa tidak
ada yang istimewa dalam hidupku. Jawabku dengan tetap menatap indahnya matahari
terbenam.
Kenapa bisa begitu? Tanya suamiku
heran.
Ya, karena aku tidak bisa berbuat
lebih untuk hidupku. Jawabku mantap.
Suamiku
terdiam, entah apa yang ada dalam pikirannya. Sejenak kami terdiam tak ada
suara apapun hanya hembusan angin dan deburan ombak yang terdengar. “Apa yang
harus aku lakukan untuk merubah hidupku” pikirku dalam diam.
Hobi kamu apa? Tanya suamiku membuka
pembicaraan.
Hobi membaca, terus kenapa? Tanyaku
penasaran.
Membaca apa? Lanjut suamiku.
Membaca cerita, novel, cerpen, dll.
Jawabku masih dengan muka bingung “apa sebenarnya yang dipikirkan suamiku”
pikirku.
Sekarang apa yang dalam pikiranmu? Tanya
suamiku kemudian.
Nah lo, aku
dibuatnya tambah bingung.
Ingin membuat perubahan dalam
hidupku dan menggenggam dunia dalam tangan kecilku ini. Jawabku seraya
mengepalkan tanganku kedepan. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Kataku ragu.
Itu sangatlah mungkin sayang. Kata
suamiku seraya membelai lembut rambut panjangku.
Caranya !? Tanyaku penasaran seraya
mengernyitkan dahi.
Begini, kamu kan hobi membaca kenapa
tidak coba buat novel / cerpen saja. Jelas suamiku memaparkan idenya.
Seketika senyum
mengambang jelas terlihat dibibirku, aku merasakan menemukan titik terang untuk
meraih keinginanku.
Boleh juga sayang, tapi apa aku
bisa? Tanyaku ragu.
Pasti bisa! Jawab suamiku antusias.
Asal fokus dan latihan terus pantang menyerah. Jelas suamiku.
Dukungan dan
antusiasme dari suamiku mampu memberikan angin positif menjalar mengalir dalam
darahku.
Terus, enaknya buat novel apa cerpen
sayang? Tanyaku kemudian.
Buat cerpen saja dulu, kalau novel
daya imajinasi kamu harus tinggi dan penggambarannya harus detail sayang. Jelas
suamiku.
Malam harinya
aku pun mencoba buat cerpen tidak perlu menunggu lama dua hari kemudian
cerpenku rampung lantas aku minta pendapat pada suami, akan tetapi suami hanya
bilang “bagus, alurnya juga runtut coba saja kirim ke media massa” mungkin
suamiku tak tega mau mengkritisi tulisanku. 1 bulan menunggu ternyata cerpenku
di tolak, aku tidak menyerah aku pun mencoba mengirim ke media massa yang lain
hasilnya tetap sama. Aku pun mulai putus asa, kesal, kertas dan bolpoin aku
lempar begitu saja.
Loh, ada apa ini? Kenapa jadi
berantakan seperti ini!? Tanya suamiku heran.
Cerpenku selalu ditolak, aku memang
tidak cocok jadi penulis! Jawabku kesal.
Ya, namanya jga usaha sayang,
penulis” yang lain pun begitu tidak mungkin langsung diterima. Jelas suamiku.
Nyerah aku, pusing! Kataku kesal
seraya menghempaskan tubuhku ke kasur.
Jangan nyerah begitu dong sayang!
Rayu suamiku.
Aku diam tanpa
berkata sedikitpun.
Ayo ikut! Ajak suamiku seraya
menarik tanganku.
Mau kemana!? Tanyaku dengan sedikit
meronta.
Suamiku diam
tanpa menjawab pertanyaanku. Entah mau dibawa kemana aku menaiki mobil
menyusuri jalan demi jalan. Sesaat kemudian suamiku melambatkan mobilnya dan
memasuki sebuah panti.
Kok kesini sayang!? Tanyaku penasaran.
“Kenapa suamiku mengajakku kesini” gumamku dalam hati seraya mengernyitkan
dahi.
Suamiku tetap
terdiam dan menggandeng tanganku menyusuri koridor, saat memasuki ruangan
alangkah terkejutnya aku banyak sekali anak-anak kecil dengan keterbatasan
fisik yang beragam.
Kamu disini dulu ya sayang,
berbaurlah dengan mereka aku masih ada urusan. Kata suamiku membuka
pembicaraan.
Iya. Jawabku singkat.
Seketika
pandanganku tertuju pada seorang gadis kecil yang duduk di kursi roda sedang
menatap ke luar jendela dan buku ditangannya. Aku pun menghampirinya.
Hai adik. Sapaku. Boleh kakak duduk
disini? Tanyaku seraya menunjuk bangku disebelahnya. Dia hanya menganggukkan
kepala.
Adik namanya siapa? Tanyaku
kemudian.
Dia menulis
namanya pada secarik kertas menggunakan tangan kirinya “keyra”, gadis kecil ini
bernama keyra dan “ masyaallah dia tuna wicara dan kenapa dengan tangan
kanannya” tanyaku dalam diam .
Boleh kakak lihat bukunya? Tanyaku
penasaran.
Lembar demi
lembar aku baca, dan tidak kusangka kata demi katanya tersusun rapi, dalam
tulisannya dia menceritakan kronologisnya kenapa dia sampai lumpuh, tangan
kanannya tidak berfungsi dan tidak bisa bicara. Dalam tulisannya dia juga
mengutarakan betapa dia merindukan saat-saat bermain dan bercanda dengan teman
sebayanya, berlarian kesana kemari dengan tertawa riang.
Tulisan kamu bagus sekali key,
bagaimana bisa kamu bisa menulis sebagus ini hanya dengan tangan kirimu?
Tanyaku takjub.
Tangan kiriku, tangan kananku. Jawab
keyra singkat.
Betapa
terkejutnya aku membaca 4 kata yang ditulis keyra, sungguh jawaban yang begitu
singkat namun berarti.
Sayang…ayo pulang! Ajak suamiku.
Aku pun
berpamitan pada keyra dan menghampiri suamiku.
Bagaimana, sudah dapat? Tanya
suamiku kemudian.
Sudah. Jawabku singkat.
Dalam
perjalanan pulang kami berdua hanya terdiam. Dalam benakku aku berpikir, keyra
gadis kecil dengan segala keterbatasan yang dia miliki, dia mampu menulis apa yang
terjadi dalam hidupnya menjadi sebuah cerita yang sangat bagus dan setiap
katanya syarat dengan arti. Sedang aku yg terlahir memiliki fisik yang sempurna
tidak mampu melakukannya.
Sekarang, apa yang sudah kamu
dapatkan barusan kamu tuang dalam tulisanmu. Kata suamiku membuka pembicaraan.
Iya sayang. Jawabku antusias.
Aku pun bangkit
dan mencoba membuat cerpen kembali. Awalnya cerpenku di tolak, namun akhirnya dua
kali pengiriman cerpenku diterima. Mulai saat itu tulisan demi tulisanku lolos
dan dimuat di salah satu media massa. Kemudian tulisan-tulisanku dibuat dalam
bentuk buku oleh salah satu penerbit ternama. Karena tulisanku yang bergenre
inspiratif tidak jarang kampus-kampus ternama mengundangku sebagai motivator.
Sungguh prestasi hal yang luar biasa bagiku. Mulai saat itu aku bangkit dan
meraih impianku, aku sadar di dunia ini tidak semua manusia terlahir dengan
sempurna, namun aku berjanji akan membuat ketidak sempurnaan itu menjadi suatu
keajaiban. Dan pada akhirnya meski tidak sepenuhnya aku dapat menggenggam dunia
dalam tinta emasku.