Senin, 13 Oktober 2014

Cerpen Motivasi



Tangan kiriku, tangan kananku.

Di senja hari aku duduk termenung seorang diri di bawah pohon kelapa dipesisir pantai yang tidak hentinya menari tersapu oleh angin yang diiringi dengan suara deburan ombak. Angin yang berhembus sepoi-sepoi seakan-akan mengerti kegalauan hatiku.
            Hai sayang! sapa seseorang yang dua bulan ini selalu menemani hari-hariku. Ya, dia suamiku.
Tempat ini adalah tempat favorit kita berdua dimana tempat ini menjadi saksi saat masih pacaran dulu.
            Eh sayang, sudah lama? Tanyaku saat sadar suamiku sudah disampingku.
            Lumayan, ngelamunin apa si serius amat? Tanya suamiku penasaran.
            Entahlah sayang, aku merasa tidak ada yang istimewa dalam hidupku. Jawabku dengan tetap menatap indahnya matahari terbenam.
            Kenapa bisa begitu? Tanya suamiku heran.
            Ya, karena aku tidak bisa berbuat lebih untuk hidupku. Jawabku mantap.
Suamiku terdiam, entah apa yang ada dalam pikirannya. Sejenak kami terdiam tak ada suara apapun hanya hembusan angin dan deburan ombak yang terdengar. “Apa yang harus aku lakukan untuk merubah hidupku” pikirku dalam diam.
            Hobi kamu apa? Tanya suamiku membuka pembicaraan.
            Hobi membaca, terus kenapa? Tanyaku penasaran.
            Membaca apa? Lanjut suamiku.
            Membaca cerita, novel, cerpen, dll. Jawabku masih dengan muka bingung “apa sebenarnya yang dipikirkan suamiku” pikirku.
            Sekarang apa yang dalam pikiranmu? Tanya suamiku kemudian.
Nah lo, aku dibuatnya tambah bingung.
            Ingin membuat perubahan dalam hidupku dan menggenggam dunia dalam tangan kecilku ini. Jawabku seraya mengepalkan tanganku kedepan. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Kataku ragu.
            Itu sangatlah mungkin sayang. Kata suamiku seraya membelai lembut rambut panjangku.
            Caranya !? Tanyaku penasaran seraya mengernyitkan dahi.
            Begini, kamu kan hobi membaca kenapa tidak coba buat novel / cerpen saja. Jelas suamiku memaparkan idenya.
Seketika senyum mengambang jelas terlihat dibibirku, aku merasakan menemukan titik terang untuk meraih keinginanku.
            Boleh juga sayang, tapi apa aku bisa? Tanyaku ragu.
            Pasti bisa! Jawab suamiku antusias. Asal fokus dan latihan terus pantang menyerah. Jelas suamiku.
Dukungan dan antusiasme dari suamiku mampu memberikan angin positif menjalar mengalir dalam darahku.
            Terus, enaknya buat novel apa cerpen sayang? Tanyaku kemudian.
            Buat cerpen saja dulu, kalau novel daya imajinasi kamu harus tinggi dan penggambarannya harus detail sayang. Jelas suamiku.
Malam harinya aku pun mencoba buat cerpen tidak perlu menunggu lama dua hari kemudian cerpenku rampung lantas aku minta pendapat pada suami, akan tetapi suami hanya bilang “bagus, alurnya juga runtut coba saja kirim ke media massa” mungkin suamiku tak tega mau mengkritisi tulisanku. 1 bulan menunggu ternyata cerpenku di tolak, aku tidak menyerah aku pun mencoba mengirim ke media massa yang lain hasilnya tetap sama. Aku pun mulai putus asa, kesal, kertas dan bolpoin aku lempar begitu saja.
            Loh, ada apa ini? Kenapa jadi berantakan seperti ini!? Tanya suamiku heran.
            Cerpenku selalu ditolak, aku memang tidak cocok jadi penulis! Jawabku kesal.
            Ya, namanya jga usaha sayang, penulis” yang lain pun begitu tidak mungkin langsung diterima. Jelas suamiku.
            Nyerah aku, pusing! Kataku kesal seraya menghempaskan tubuhku ke kasur.
            Jangan nyerah begitu dong sayang! Rayu suamiku.
Aku diam tanpa berkata sedikitpun.
            Ayo ikut! Ajak suamiku seraya menarik tanganku.
            Mau kemana!? Tanyaku dengan sedikit meronta.
Suamiku diam tanpa menjawab pertanyaanku. Entah mau dibawa kemana aku menaiki mobil menyusuri jalan demi jalan. Sesaat kemudian suamiku melambatkan mobilnya dan memasuki sebuah panti.
            Kok kesini sayang!? Tanyaku penasaran. “Kenapa suamiku mengajakku kesini” gumamku dalam hati seraya mengernyitkan dahi.
Suamiku tetap terdiam dan menggandeng tanganku menyusuri koridor, saat memasuki ruangan alangkah terkejutnya aku banyak sekali anak-anak kecil dengan keterbatasan fisik yang beragam.
            Kamu disini dulu ya sayang, berbaurlah dengan mereka aku masih ada urusan. Kata suamiku membuka pembicaraan.
            Iya. Jawabku singkat.
Seketika pandanganku tertuju pada seorang gadis kecil yang duduk di kursi roda sedang menatap ke luar jendela dan buku ditangannya. Aku pun menghampirinya.
            Hai adik. Sapaku. Boleh kakak duduk disini? Tanyaku seraya menunjuk bangku disebelahnya. Dia hanya menganggukkan kepala.
            Adik namanya siapa? Tanyaku kemudian.
Dia menulis namanya pada secarik kertas menggunakan tangan kirinya “keyra”, gadis kecil ini bernama keyra dan “ masyaallah dia tuna wicara dan kenapa dengan tangan kanannya” tanyaku dalam diam .
            Boleh kakak lihat bukunya? Tanyaku penasaran.
Lembar demi lembar aku baca, dan tidak kusangka kata demi katanya tersusun rapi, dalam tulisannya dia menceritakan kronologisnya kenapa dia sampai lumpuh, tangan kanannya tidak berfungsi dan tidak bisa bicara. Dalam tulisannya dia juga mengutarakan betapa dia merindukan saat-saat bermain dan bercanda dengan teman sebayanya, berlarian kesana kemari dengan tertawa riang.
            Tulisan kamu bagus sekali key, bagaimana bisa kamu bisa menulis sebagus ini hanya dengan tangan kirimu? Tanyaku takjub.
            Tangan kiriku, tangan kananku. Jawab keyra singkat.
Betapa terkejutnya aku membaca 4 kata yang ditulis keyra, sungguh jawaban yang begitu singkat namun berarti.
            Sayang…ayo pulang! Ajak suamiku.
Aku pun berpamitan pada keyra dan menghampiri suamiku.
            Bagaimana, sudah dapat? Tanya suamiku kemudian.
            Sudah. Jawabku singkat.
Dalam perjalanan pulang kami berdua hanya terdiam. Dalam benakku aku berpikir, keyra gadis kecil dengan segala keterbatasan yang dia miliki, dia mampu menulis apa yang terjadi dalam hidupnya menjadi sebuah cerita yang sangat bagus dan setiap katanya syarat dengan arti. Sedang aku yg terlahir memiliki fisik yang sempurna tidak mampu melakukannya.
            Sekarang, apa yang sudah kamu dapatkan barusan kamu tuang dalam tulisanmu. Kata suamiku membuka pembicaraan.
            Iya sayang. Jawabku antusias.
Aku pun bangkit dan mencoba membuat cerpen kembali. Awalnya cerpenku di tolak, namun akhirnya dua kali pengiriman cerpenku diterima. Mulai saat itu tulisan demi tulisanku lolos dan dimuat di salah satu media massa. Kemudian tulisan-tulisanku dibuat dalam bentuk buku oleh salah satu penerbit ternama. Karena tulisanku yang bergenre inspiratif tidak jarang kampus-kampus ternama mengundangku sebagai motivator. Sungguh prestasi hal yang luar biasa bagiku. Mulai saat itu aku bangkit dan meraih impianku, aku sadar di dunia ini tidak semua manusia terlahir dengan sempurna, namun aku berjanji akan membuat ketidak sempurnaan itu menjadi suatu keajaiban. Dan pada akhirnya meski tidak sepenuhnya aku dapat menggenggam dunia dalam tinta emasku.